Categories

Rabu, 30 Januari 2013

Sopir Mopen Demo DPRK Agara

Leave a Comment
* Protes Penyaluran BBM di SPBU


KUTACANE - Puluhan sopir mobil penumpang dan pikap Kutacane, Agara menggelar demonstransi, memprotes penyaluran BBM bersubidi di SPBU yang lebih mengutamakan pedagang eceran dibandingkan mereka. Aksi para sopir ini yang berdemo ke gedung DPRK sempat memacetkan ruas jalan Jalan Ahmad Yani, Kutacane pada Selasa (29/1) pagi.

Mogoknya angkutan umum ini yang melayani rute Darul Hasanah, Badar, Ketambe ke Kota Kutacane juga telah menyebabkan para pelajar, masyarakat atau juga pegawai telantar. Sehingga, sebagian harus menumpang mobil pribadi atau juga dijemput pihak keluarga ke tempat tujuan, seperti sekolah, perkantoran dan lainnya.

Kedatangan para sopir ini disambut oleh Kapolres Agara, AKBP Trisno Riyanto; Wakil Ketua DPRK, Syahbuddin BP, dan anggota DPRK, Rasidun Pagan, Bukhari Selian, Marhusin Beroeh, Erdarina Pelis, Sopian, Budimansyah, Syamsiar, termasuk Wabup Agara, Ali Basrah. Para sopir angkutan diperbolehkan masuk ke ruang sidang untuk berdialog di bawah pengawasan aparat kepolisian.

Koordinator mobil pikap, Armianto dalam paparannya mengatakan, penjualan BBM bersubsidi di SPBU telah dibatasi, tetapi sebaliknya, kepada pengecer yang membawa jeriken besar tidak dibatasi. Padahal, sebutnya, petugas keamanan ikut mengawasi penyaluran BBM, namun tidak juga berjalan efektif, sehingga harga solar atau bensin bersubsidi naik, antara Rp 7.000-Rp 10.000/liter.

“Kenaikan harga BBM eceran ini sangat memberatkan para awak angkutan, karena untuk mendapatkan di SPBU sangat sulit, kalaupun ada terbatas,” katanya. Dia meminta dewan ikut mengawasi dan harus ada tindakan nyata untuk menertibkan pedagang eceran di SPBU Kampung Melayu di Kecamatan Babussalam, dan Lawe Kihing di Kecamatan Bambel. 

Hal senada juga diungkapkan Munir, salah seorang sopir angkutan umum. Dia menyatakan para pedagang eceran sangat mudah mendapatkan BBM di SPBU, tetapi tidak untuk mobil penumpang atau juga angkutan barang. M Ali Bugar, juga seorang sopir angkutan menyatakan pedagang eceran menjamur di sepanjang ruas jalan dalam dan luar kota.

Dia mengungkapkan: “Saya pernah mencoba mengisi solar di salah satu SPBU, tetapi tidak diberikan, padahal seorang pedagang eceran sedang mengisi solar ke jerikennya. Sehingga, saya harus membeli solar di pedagang eceran dengan harga Rp 5.000/liter atau naik Rp 500 dari harga resmi Rp 4.500/liter.”

Anggota DPRK Agara, Rasidun Pagan dalam tanggapannya menyatakan penertiban pedagang eceran BBM harus tegas dan nyata. Erdarina Pelis, juga mengungkapkan hal sama, termasuk Bukhari Selian yang menyatakan penertiban harus ada kesungguhan eksekutif. Seusai berdialog, para sopir ini membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB dan pulang tanpa mengangkut penumpang lagi.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Aceh Tenggara (AMPAT), jga melakukan aksi demo ke DPRK Agara di Kutacane, Kecamatan Babussalam, Kamis (1/11/2012). Para demonstran ini menuntut penertiban BBM bersubsidi yang disalurkan melalui SPBU. Mereka juga menuntut penertiban pedagang eceran yang berjualan dengan jeriken.

0 komentar:

Posting Komentar